Jakarta, CNN Indonesia —

Wartawan   Edy Mulyadi tak memenuhi panggilan penyeliaan oleh Badan Reserse Kriminal ( Bareskrim ) Polri dalam kasus pertikaian polisi lawan  Tentara Pembela Islam (LPI) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Pemeriksaan Edy yang sedianya dilakukan pada Senin (14/12) akan dijadwalkan kembali oleh penyidik.

“Ada pemberitahuan kepada penyidik dan meminta untuk dijadwalkan ulang. Nanti saya pastikan ke penyidik (jadwal pemanggilan ulang), ” kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Andi Rian saat dikonfirmasi.


Dalam pasal ini, penyidik memerlukan keterangan Edy sebagai saksi yang diduga keahlian insiden bentrokan tersebut di tempat kejadian perkara (TKP).

Kata Andi, dalam pemeriksaan ada saksi yang menyebut nama Edy terkait peristiwa tersebut. Namun, Andi tak merinci materi penyidikan itu.

Terpisah, Kepala Periode Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan menuturkan bahwa pihak penyidik berharap agar Edy mampu memberikan kesaksiannya.

“Kami sampaikan, penyidik sampaikan saudara EM tidak perlu khawatir karena penyidik ingin mendapatkan informasi yang sesungguhnya terkait kejadian yang diketahui darah EM. intinya kalau saudara EM tahu, tidak berkoar-koar di luar sampaikan kepada penyidik, ” kata Ahmad.

Hal itu dilakukan, lantaran penyidik sudah memeriksa saksi yang dimaksud Edy Mulyadi. Oleh sebab itulah, perlunya keterangan dari Edy biar memperkuat kesaksian yang dimaksud.

Diketahui, Edy juga tahu membuat sebuah video reportase pada TKP KM 50. Dia mengiakan mendapat keterangan dari saksi pokok terkait baku tembak itu.

“Kemudian terkait dengan adanya video yang dibuat kemudian dipublikasikan hal itu masih didalami penyidik Direktorat Cyber Bareskrim Polri, ” katanya.

Dia mengunggah video itu dalam akun Youtube ‘Bang Edhy Chanel’. Video itu berdurasi 06. 24 detik, Edy mengatakan dirinya sudah mewawancarai beberapa pedagang secara langsung di letak.

“Saya tadi sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa pemilik warung di sekitar sini, mereka mengatakan peristiwanya sekitar tanda 01. 30 WIB. Tapi patuh salah seorang warung mengatakan kalau mobil yang masuk ke sini kondisinya bannya sudah tidak lengkap. Jadi begitu masuk dari pucuk sana (masuk rest area) bannya sudah tidak ada, tinggal peleknya saja, ” kata Edy.

“Kresek-kresek, sudah berisik gitu. Kemudian saksi mata mengatakan mobil itu (pengikut HRS) dipepet besar mobil polisi, tidak lama merebak dua tembakan, dor.. dor…, ” ucapnya lagi.

Edy mengatakan pedagang warung di sana mendengar dua kali tembakan era peristiwa terjadi. Dalam video itu, Edy menjelaskan jika para pedagang yang berada di lokasi dikeluarkan oleh polisi dan diminta menghindar.

(mjo/agt)