Jakarta, CNN Indonesia —

Covid-22 menjadi perhatian lantaran disebut lebih berbahaya dan mematikan dari dari varian Delta yang saat ini mendominasi penularan Covid-19 dunia.

Varian Delta mendominasi penularan lantaran sifatnya yang lebih cepat menular ketimbang varian lain seperti varian Alfa dan Beta serta virus asli yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China.

Data Badan Kesehatan AS, CDC, menunjukkan setiap orang yang terinfeksi virus corona varian Delta rata-rata bisa menularkan penyakitnya kepada 8-9 orang.


Sementara data WHO menunjukkan mutasi varian Delta menyebabkan varian ini 55 persen lebih mudah menulari dari varian Alfa. Sedangkan varian Alfa 50 persen lebih menular dari virus corona asli yang pertama kali ditemukan di Wuhan.

Lantas bagaimana dengan Covid-22?

Mengapa muncul istilah Covid-22

Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh ilmuwan yang berbasis di Zurich, Swiss, Profesor Imunologi dari Universitas ETH, Sai Reddy. Istilah ini tidak ditetapkan secara resmi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Istilah ini dilontarkan dalam wawancara dengan koran berbahasa Jerman-Swiss, Blick, terkait pandemi.

“Ini bukan lagi Covid-19. Saya akan menyebutnya Covid-21,” jelasnya saat ditanya soal program vaksinasi dan betapa gawatnya tingkat penularan varian Delta.

Kemudian, ia berkomentar soal fase pandemi berikutnya kemungkinan akan menghadirkan varian yang lebih berbahaya akibat mutasi varian virus corona.

“Hal itu akan menjadi masalah besar di tahun depan. Covid-22 bisa lebih buruk dari apa yang kita saksikan saat ini,” tuturnya.

Apa yang dimaksud Covid-22?

Sai menggunakan istilah ini untuk menjelaskan jika varian Covid-19 pada 2022 bisa bermutasi lebih ganas dari varian Delta. Diperkirakan akan muncul varian baru tahun depan yang lebih mematikan dan menular dari Delta.

Meski demikian, istilah Covid-22 yang ia gunakan tetap merujuk pada virus corona SARS-CoV-2. Virus inilah yang menjadi penyebab penyakit Covid-19. Sehingga ia menggunakan istilah Covid-22 yang kemungkinan menyebabkan muncul varian baru SARS-CoV-2 yang lebih berbahaya di tahun 2022. Sehingga, ia mengimbau agar warga dunia lebih waspada.

“Covid-22 bisa lebih buruk dari apa yang kita saksikan sekarang. Jika varian seperti itu muncul, kita harus mengenalinya sedini mungkin dan produsen vaksin harus mengadaptasi vaksin dengan cepat,” ujar Sai.

Dari pernyataan tersebut, istilah Covid-22 ditekankan pada “kemungkinan” muncul varian baru Covid-19. Sebab, ia menyoroti bagaimana varian Covid-19 bermutasi dengan cepat dalam waktu kurang dari dua tahun. Menurut Sai ini bukan pertanda baik.

Kapan Muncul dan Pengakuan Sang Profesor Pencetus Covid-22

BACA HALAMAN BERIKUTNYA