Jakarta, CNN Indonesia —

Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk alias Antam berada di posisi Rp946 ribu per gram pada Rabu (18/8). Harganya naik Rp4.000 dibandingkan perdagangan Senin (16/8) di level Rp942 ribu per gram.

Serupa, harga pembelian kembali (buyback) juga bertambah Rp4.000 dari Rp822 ribu menjadi Rp826 ribu per gram hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp523 ribu, 2 gram Rp1,83 juta, 3 gram Rp2,72 juta, 5 gram Rp4,5 juta, 10 gram Rp8,95 juta, 25 gram Rp22,26 juta, dan 50 gram Rp44,44 juta.


Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp88,81 juta, 250 gram Rp221,76 juta, 500 gram Rp443,32 juta, dan 1 kilogram Rp886,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Sedangkan, pembeli yang tidak menyertakan NPWP dikenakan potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX menguat 0,16 persen menjadi US$1.790,06 per troy ons. Begitu juga dengan harga emas di perdagangan spot naik 0,15 persen ke US$1.788,88 per troy ons pada pagi ini.

Direktur PT Solid Gold Berjangka Dikki Soetopo mengatakan penguatan harga emas ditopang oleh pudarnya minat pasar terhadap aset berisiko. Investor mencermati sejumlah sentimen global mulai dari kenaikan virus covid-19 varian delta hingga konflik politik di Afghanistan, sehingga memilih mengalihkan investasinya ke aset aman (safe haven).

“Harga emas mencatat penguatan selama 5 hari berturut-turut dan mendekati level psikologis US$1.800/troy ons seiring minat terhadap aset risiko memudar,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (18/8).

[Gambas:Video CNN]

Ia mengatakan ketegangan politik di Afghanistan menjadi alasan untuk membeli emas sebagai safe haven. Seperti diketahui, situasi politik di Afghanistan memburuk secara drastis sepanjang pekan lalu karena Taliban kembali menduduki ibukota Kabul.

“Hal itu berpotensi mempengaruhi kondisi pasar finansial dan harga emas, sehingga pasar akan memantau perkembangan situasi di Afghanistan selama beberapa hari ke depan,” imbuhnya.

Selain itu, pasar merespons turunnya data penjualan ritel AS pada Juli 2021. Tercatat, penjualan ritel AS turun 1,1 persen, atau jauh lebih buruk dibandingkan dengan ekspektasi ekonom dalam survei Dow Jones yakni minus 0,3 persen. Angka tersebut jauh lebih buruk dari capaian Juni yang mencetak kenaikan sebesar 0,6 persen.

“Rilis data penjualan ritel di AS per Juli mengindikasikan bahwa virus covid-19 varian delta benar-benar memukul ekonomi,” imbuhnya.

(ulf/agt)