Jakarta, CNN Indonesia —

Seorang jurnalis  Myanmar yang meliput demonstrasi antikudeta, Min Nyo, dijatuhi hukuman kurungan selama tiga tahun.

Media tempat Min Nyo bekerja, Democratic Voice of Burma (DVB), menyatakan bahwa karyawan itu ialah bagian dari gelombang baru jurnalis yang dijatuhi balasan akibat meliput demo antikudeta.

DVB menyatakan bahwa MinNyo ditahan di 3 Maret lalu, sekitar sebulan setelah junta militer mengudeta pemerintahan sipil agenda 1 Februari.


Menurut DVB, Min Nyo dipukuli polisi hingga mengalami luka serius. Namun, kepolisian tak mengizinkan keluarga Min Nyo menjenguk.

DVB pun mendesak agar junta militer segera membebaskan Min Nyo karena proses hukumnya sangat tidak adil.

“DVB mendesak pihak berwenang militer membebaskan Min Nyo secepatnya, juga jurnalis lain yang ditahan atau dijatuhi hukuman, ” demikian pernyataan DVB yang dikutip Reuters , Kamis (13/5).

Reuters sudah berupaya untuk menghubungi juru bicara junta militer, tapi belum ada respons.

Min Nyo merupakan satu diantara dari puluhan jurnalis dengan ditahan sejak kudeta militer pecah pada Februari cerai-berai. Sejak kudeta tersebut, junta militer juga mencabut izin berbagai media, termasuk DVB.

Pada introduksi pekan ini, tiga jurnalis DVB ditahan di Thailand karena masuk tanpa izin karena ingin kabur lantaran Myanmar.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah kelompok pemerhati hak asasi manusia mendesak Thailand agar tak mendeportasi ketiga jurnalis tersebut.

Wakil Direktur Kawasan Amnesty International, Emerlynne Gill, mengucapkan bahwa akan sangat kritis jika ketiga jurnalis tersebut kembali ke Myanmar.

“Mereka mempertaruhkan hidup dan kebebasan mereka buat menyoroti kekerasan militer. Tentara sangat kejam dan mau menghancurkan musuh dengan menutup mereka yang ingin membongkar kejahatan mereka, ” cakap Gill.

(has)