Jakarta, CNN Indonesia —

Para aktivis anti  kudeta militer Myanmar menggelar protes dengan mengenakan baju biru buat menyerukan pembebasan orang-orang dengan ditahan junta militer, Rabu (21/4).

Pada hari itu, warga Myanmar ramai-ramai membagikan fotonya di media sosial dengan baju birunya dan mengangkat tangan yang tertulis nama orang-orang yang ditangkap junta sejak kudeta.

“Silakan angkat suara Anda serta minta pembebasan semua orang yang ditahan secara tidak adil di bawah pemerintahan junta, ” kata pemimpin protes Ei Thinzar Maung di Facebook.


Mengambil Reuters , kaus tersebut merupakan kredit kepada aktivis pro-demokrasi Win Tin yang meninggal dalam 21 April 2014. Dia telah dipenjara militer semasa 19 tahun.

Jika dibebaskan, Win Tin berjanji akan mengenakan kemeja biru hingga semua tahanan politik dibebaskan.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), mencatat sebesar 739 orang telah dibunuh dan 3. 331 karakter ditahan oleh junta tentara Myanmar sejak kudeta berlaku

Dari jumlah tersebut 20 orang lainnya telah dijatuhi hukuman mati.

Anggota parlemen yang digulingkan juga telah membentuk pemerintahan tandingan, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG).

Namun, Kementerian Dalam Negeri Mynamar telah menyatakan NUG menyalahi hukum. NUG bersikukuh hal tersebut sah di Myanmar.

Mereka selalu telah meminta pengakuan global dan diundang dalam pertemuan khusus ASEAN di Jakarta.

“ASEAN tidak dapat menjadi wadah diskusi mengenai status di Myanmar tanpa mengindahkan dan berbicara dengan Pemerintah Persatuan Nasional, ” introduksi Anggota Parlemen ASEAN buat Hak Asasi Manusia di dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Pemimpin Kudeta Jenderal Min Aung Hlaing telah mengkonfirmasi kehadirannya pada Jakarta.

Eksistensi Aung Hlaing di Jakarta, dikecam salah satu gabungan hak asasi manusia, Human Rights Watch.

“Min Aung Hlaing, yang menghadapi sanksi internasional akan perannya dalam kekejaman militer dan penumpasan brutal terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi, seharusnya tidak disambut pada pertemuan antar pemerintah untuk mengatasi krisis yang ia mengejawantahkan, ” kata Direktur Human Rights Watch untuk Asia Brad Adams.

(isa/dea)

[Gambas:Video CNN]