Jakarta, CNN Indonesia —

Prajurit TNI AD terlibat keributan dengan warga saat pelaksanaan pemeriksaan swab antigen di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali Senin (23/8) kemarin.

Kapenrem 163/Wira Satya Mayor Arm Ida Bagus Putu Diana mengatakan kegiatan itu merupakan kesepakatan dan permintaan pihak aparat dan tokoh masyarakat Desa Sidatapa kepada Satgas Covid-19.

Kata Bagus, keributan bermula saat dua orang anak muda berboncengan menggunakan sepeda motor melintas tanpa memakai masker. Saat itu, anggota Tim Nanggala berusaha menghentikan kedua anak muda itu.


“Namun kedua orang tersebut tidak mau berhenti malah menabrak salah satu anggota Kodim 1609/Buleleng yang tergabung di Tim Nanggala, Kopda Made Sastrawan yang menyebabkan tangannya lecet,” kata Bagus dalam keterangannya, Selasa (24/8).

Tindakan kedua orang itu dianggap membahayakan anggota yang sedang bertugas. Karenanya, anggota BKO dari Raider 900/SBW Pratu Gagas Ribut Supriantoko melakukan pengejaran, tapi tidak berhasil.

Tantang Anggota TNI di Buleleng

Selang beberapa menit kemudian, kedua orang itu kembali mendatangi Pratu Gagas dan bertanya dengan nada menantang dan suara kencang.

Selanjutnya, kedua orang itu dibawa oleh anggota untuk bertemu dengan Dandim 1609/Buleleng dan dilaksanakan swab antigen.

Mendadak, datang keluarga dari pemuda itu berjumlah sekitar lima orang. Lokasi pelaksanaan swab antigen, kata Bagus, dekat dengan rumah kedua pemuda itu.

“Sekitar lima orang mendatangi lokasi untuk mengambil pemuda tersebut dengan cara menarik agar tidak dilaksanakan swab test rapid antigen,” ucap Bagus.

Dandim 1609/Buleleng yang ada di lokasi lantas memerintahkan kepada anggota untuk menahan kedua pelaku agar dilaksanakan swab antigen.

Namun, Dandim 1609/Buleleng justru dipukul di bagian belakangnya oleh oknum warga bernama Kadek D yang masih berstatus sebagai mahasiswa dengan menggunakan tangan.

“Melihat kondisi demikian Pratu Gagas Ribut Suprianto berusaha mengamankan pelaku namun karena adanya perlawanan dari pelaku maka secara spontan terjadi saling pukul antara anggota dengan oknum masyarakat,” tutur Bagus.

Mediasi TNI dan Warga Buleleng

Usai kejadian tersebut, dilakukan proses mediasi antara kedua belah pihak. Mediasi turut melibatkan Perbekel Sidetapa dan tokoh masyarakat Desa Sidetapa agar permasalahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Namun, mediasi gagal. Sebab, keluarga pelaku yang merasa menjadi korban pemukulan meminta waktu untuk melaksanakan musyawarah dengan keluarga besar.

Bagus menyebut karena situasi tak memungkinkan maka kegiatan pemeriksaan swab antigen pun dihentikan.

“Karena masyarakat Desa Sidetapa menolak untuk dilanjutkan kegiatan tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bagus menyampaikan bahwa respons anggota melakukan pemukulan balik kepada warga, tak lepas dari sikap spontan terhadap perlakuan yang dialami Dandim 1609/Buleleng saat berupaya mengendalikan situasi.

“Kita tegaskan juga bahwa apa yang dilakukan aparat tidak terlepas sebagai respon terhadap perilaku warga di lokasi kejadian,” ucap Bagus.

“Dan secara hukum hal ini bisa juga berproses karena di saat penegakan aturan PPKM Level 4 seperti saat ini, ada warga yang melawan aparat yang sejauh ini sebelum kejadian ini sudah sangat menunjukan sikap-sikap persuasif dan humanis di lapangan,” imbuhnya.

(dis/ugo)

[Gambas:Video CNN]