Melodrama Eksploratif Taylor Swift dalam Evermore

Jakarta, CNN Indonesia —

Taylor Swift   balik membuat kejutan sebelum tahun wabah berakhir. Pada Jumat (11/12) berserakan, dua hari sebelum berulang tarikh ke-31, ia merilis album kesembilannya yang bertajuk evermore.

Album itu dirilis hanya lima bulan setelah album ke-delapan, folklore, yang menuai pujian dari berbagai kritikus. Swift sendiri dalam introduksi menyatakan album evermore merupakan “adik” dari folklore.

Penjelasan Swift tersebut menarik lantaran menyarankan evermore memiliki banyak kesamaan dengan folklore. Namun seperti selayaknya ahli kandung di manapun, akan ada perbedaan yang terasa.


Album evermore ini mungkin, masa hanya melihat dari single pembuka willow, akan dinilai sebagai rekaman folk mendayu seperti kebanyakan corak folklore.

Tapi nyatanya evermore merupakan buah eksplorasi Swift dan Aaron Dessner–yang sebelumnya juga menggarap sebagian tumbuh lagu folklore–dalam ruang musik alternative rock yang beranggut, lirik metaforis yang lebih dalam nan puitis, hingga cerita yang berpaut.

Sebagai seseorang yang sudah mengikuti Swift sejak ia sedang berada di kandang country, hamba bisa mengatakan album evermore merupakan karyanya yang paling kompleks serta kaya. Maka wajar rasanya Swift melantunkan ” I come back even stronger than 90’s trend ” dalam willow.

Mengingat album ini mulai digarap sepekan setelah merilis folklore pada 24 Juli berantakan dan kompleksitas serta kekayaan musik di dalamnya, Swift tampak benar-benar menggila dalam menciptakan musik.

“Untuk membuatnya lebih sahih, kami hanya tak bisa berakhir menulis lagu, ” kata Swift dalam prolog album evermore.

“Untuk mencoba dan membuatnya lebih puitis, rasanya seperti kami berdiri di tepi hutan folklorian & punya pilihan: berbalik dan kembali atau melakukan perjalanan lebih jauh ke dalam hutan musik ini, ” lanjutnya.

[Gambas:Instagram]

Dalam kunjungan menyelam musik itu, pilihan Swift untuk kembali menggandeng Dessner ialah keputusan tepat yang sekaligus menjelma tantangan bagi pendengar. Hal itu karena Dessner dengan kegeniusannya menggarap  musik dari instrumen konvensional, menjelma poin penting album ini.

Taylor Swift mungkin sanggup menghasilkan lagu dengan lirik metaforis nan puitis dengan segala cerita tersirat juga konsep di asing rasio orang awam, namun sekitar ini Dessner adalah pihak dengan mampu membuat karya imajinatif selalu ‘edgy’ itu punya rasa yang bisa diterima orang biasa kaya saya.

Bagi saya sendiri, keterlibatan Dessner pada 14 dari 15 lagak album standar evermore ini men rasa baru dibandingkan beberapa susunan Swift terakhir yang menggaet Jack Antonoff, seperti album 1989 (2014), reputation (2017), Lover (2019), dan separuh folklore (2020).

Campur tangan Dessner yang bertambah dominan dalam evermore dibanding folklore itulah yang menjadi tantangan bagi pendengar Taylor Swift, yang sudah terbiasa disuapi musik pop- ish dalam beberapa tahun terakhir.

Namun Swift tampak tak ambil pusing apakah musiknya masuk Top 40 ataukah merajai tangga lagu aliran utama. Ini pun terlihat di lagu long story short: ” No more keepin’ score, now I just keep you warm. No more tug of war, now I just know there’s more “.

Meski dari segi hidangan –atau bisa disebut sebagai karakter– dari evermore jelas berbeda dengan kakaknya, folklore, keduanya masih memiliki kesamaan, yaitu konsep cerita dan bagaimana Swift bermain-main dengan imajinasi yang dituangkan dalam lirik konotatif nan puitis.

Swift mengisahkan banyak hal dalam album ini, mulai dari perjalanan cintanya dengan Joe Alwyn seperti pada willow, gold rush, serta long story short.

Kemudian ada cerita imajinatif karangan dirinya bersama Alwyn bertema putus mabuk yang bikin ambyar, seperti champagne problems, coney island, dan evermore.

Lalu ada cerita melodrama perselingkuhan dalam ivy & juga berbalut kriminal pembunuhan bagaikan pada no body, no crime, hingga cerita fiktif berparalel dalam ’tis the damn season, dorothea, juga marjorie.

[Gambas:Youtube]

Marjorie & Dorothea

Lagu marjorie sendiri memiliki nilai khusus pada album ini, yaitu sebuah ode untuk sang nenek dari pihak ibu, Marjorie Finlay, yang merupakan seorang penyanyi opera.

Lagu itu juga sebagai ‘saudara’ dari lagu peace dalam album folklore. Lagu peace merupakan dedikasi untuk kakek Swift dari pihak ayah, Archie Dean Swift Jr, yang ikut berperang dalam Perang Dunia II.

Namun berbeda dengan langgam peace, marjorie lebih memiliki kedalaman emosi juga rasa yang personal.

Meski hanya menggunakan lirik yang sederhana, Swift mampu merangkai pesan peninggalan neneknya tersebut dengan penyesalan tak bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Marjorie yang meninggal pada 2003 silam.

Apalagi, Swift memasukkan sampel suara Marjorie sebagai pandangan latar dan menambahkan emosi sebab lagu ini.

Never be so kind, You forget to be clever, Never be so clever, You forget to be kind,

And if I didn’t know better, I’d think you were listening to me now,

What died didn’t stay dead, You’re alive, you’re alive in my head

[Gambas:Youtube]

Akan tetapi, sesuatu hal mengakui terjadi dengan nama Marjorie pada album ini. Entah disengaja ataupun tidak, nama dalam lagu itu juga terkoneksi secara tidak tepat dengan lagu no body no crime. Bukan  Taylor Swift namanya bila tak memiliki silang implikasi antara satu lagu dengan yang lain.  

Di dalam lagu no body no crime yang dibawakan bersama band HAIM dengan gaya country, Swift merawikan cerita fiktif kriminal dari pembunuhan seseorang bernama Este yang sedang menyelidiki perselingkuhan suaminya.

Namun jasad Este tak bisa ditemukan sehingga tudingan ia dibunuh oleh sang suami tak bisa diajukan.

Sementara tersebut, sang narator (Swift) yang merupakan sahabat Este yakin perempuan itu dibunuh suaminya. Ia pun mengabulkan balas dendam dengan membunuh si suami dan kejahatannya itu serupa tak menyisakan bukti apapun.

[Gambas:Youtube]

Menariknya, cerita pada lagu tersebut  didukung sebuah teori dari penggemar yang berdasarkan kasus nyata.   Kasus tersebut berupa seorang bani berusia lima tahun bernama Marjorie West lenyap tanpa jejak pada Pennsylvania –kampung halaman Swift– di dalam 8 Mei 1938 dan tidak ditemukan hingga saat ini.

Bukan hanya itu. Marjorie yang merupakan anak bontot daripada pasangan Shirley dan Cecilia  tersebut memiliki kakak perempuan yang sekaligus saksi terakhir lenyapnya anak itu, bernama Dorothea, sama dengan tajuk sebuah lagu dalam evermore.

Di sisi lain, gaya dorothea disebut Swift mengisahkan seorang kerinduan seseorang atas gadis bertanda Dorothea. Ia disebut berasal sejak kota kecil kemudian pergi ke Hollywood untuk mengejar mimpi, meskipun banyak penggemar yakin bahwa ciri ini berdasarkan sosok sahabat Swift, Selena Gomez.

“A tiny screen’s the only place I see you now, And I got nothing but well wishes for ya”

[Gambas:Youtube]

Dorothea dan seseorang yang digunakan sudut pandangnya dalam langgam Dorothea ini disebut Swift utama sekolah dengan Betty, James & Inez yang muncul di corak cardigan, betty, dan august di dalam album folklore.

Tatkala itu, sudut pandang dari Dorothea disebut Swift berada dalam corak ’tis the damn season . Lagu itu merawikan pengalaman Dorothea kembali ke negeri halamannya untuk liburan namun dia juga sekaligus bertemu dengan mabuk lamanya.

“I’m stayin’ at my parents’ house, and the road not taken looks real good now, and it always leads to you and my hometown, ”

“I won’t ask you to wait if you don’t ask me to stay, So I’ll go back to L. A. and the so-called friends, ”

[Gambas:Youtube]

Terlepas dari kemampuan Swift serta Dessner yang tak perlu diragukan lagi dalam mengarang sebuah lagak bernarasi, sejumlah lagu eksperimental pada album evermore ini masih terasa ganjil bahkan hingga berkali-kali beta dengar.

Selain tersebut, jumlah lagunya yang cukup penuh juga didominasi oleh karya tidak untuk pendengar radio pop. Sehingga tak terlalu mengejutkan bila belakang capaian komersil evermore tak meninggalkan folklore atau albumnya lainnya.

Meski begitu, kejutan daripada Taylor Swift ini tetap menjadi kado ulang tahun menyenangkan darinya jelang menutup 2020.

(end)