Pekik Hati Pekerja di Tengah Euforia Pilkada

Jakarta, CNN Nusantara —

Kaki Kiki (26) terasa berat kala menuju ke halte Transjakarta pagi tadi. Langkah  terasa berat karena ia diminta masuk kerja untuk mengakhiri berkas-berkas penting perusahaan di hari  libur nasional.

Wajahnya suram bak langit Jakarta hari itu. Tak jarang ia mengeluh, jengkel karena hari libur Pilkada   tak ‘berlaku’ untuknya. Namun,   Kiki tak berani mempertanyakan kesimpulan perusahaan konstruksi  tempatnya bekerja.

“Sungkan lah, nanti dikira banyak mau, ga rajin lah. Apalagi disuruh sama bos langsung ini, ” ujarnya kepada CNNIndonesia. com.



Meski tak mendapat uang lembur sesuai dengan kebijakan pemerintah, Kiki tak mau mempermasalahkan.   Pasalnya, ia tak mau dicap sebagai karyawan yang ‘sulit’.

Padahal, pemerintah lewat Kementerian Ketenagakerjaan mewajibkan pengusaha membayar upah lembur kepada pekerja yang bekerja dalam hari ini yang bertepatan secara pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Kewajiban itu tertuang pada Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan MENODAI Nomor M/14/HK. 04/XII/2020 tentang Hari Libur Bagi Pekerja/Buruh Pada Keadaan Pemungutan Suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Pemangku Bupati, serta Walikota dan Pengantara Walikota Tahun 2020.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyebut hal ini bahasa dengan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2020 yang menetapkan 9 Desember 2020 sebagai hari libur nasional.

“Enggak ada (uang lembur), paling uang santap sama ongkos transportasi, ” tanggungan Kiki pelan.

Kausa lainnya, Kiki mau mengamankan pekerjaannya dari ancaman PHK. Ia tak ingin jadi karyawan yang dicopot perusahaan.

Sejak pandemi, ia bilang banyak proyek yang ditunda sehingga harus perusahaan melakukan PHK sejak pertengahan tahun. Berusaha melihat sisi positifnya, Kiki pun manut saja tidak banyak menuntut.

“Ya udah lah, disyukuri saja masih bisa kerja mah, ” katanya pasrah.

Kisah tidak jauh berbeda pun dialami oleh Raniya (24). Dia mengirim chat Whatsapp kepada beberapa rekan kerjanya sebelum berangkat kerja.

Raniya  merupakan karyawan di lupa satu supermarket di kawasan Bekasi. Mendengar kabar beberapa staff diliburkan hari ini, ia kian yakin akan menerima upah lembur.

Meski tak mendapat kepastian dari HRD tempatnya bekerja, berdasarkan pengalamannya, biasanya imbalan lembur diberikan jika staff yang masuk tak penuh.

Jika situasi mendukung, Raniya berencana akan bertanya kepada atasannya tempat kepastian itu. Namun, ia terang apapun jawabannya, ia tak bakal bisa banyak protes.

Dia sudah mengalami pemotongan upah sejak April lalu, Raniya sebetulnya tak mau banyak berharap sebab perusahaan bisa saja menggunakan dasar pandemi untuk tak membayarkan haknya.

“Kalau kepikiran nanya tersedia cuma lihat situasi saja gerangan kebetulan masuknya shift- shift- peduli, jadi paling kalau staff di off berarti hitungannya lembur, ” ujarnya.

Seperti yang diketahui, hari ini ditetapkan sebagai libur nasional karena sejumlah daerah menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

[Gambas:Video CNN]

(wel/age)