Pembobolan Akun Menimpa Nasabah Aplikasi Trading di AS

Jakarta, CNN Indonesia —

Aplikasi  perdagangan ( trading ) Robinhood menyatakan bahwa sejumlah akun  pelanggan baru-baru ini menjadi bahan penjahat dunia maya.

Robinhood  melalui pernyataan yang dikutip dari CNN  Business mengatakan peretas melakukan aksi pembobolan dengan menyusup ke akun email pribadi pengguna di luar aplikasi perdagangan. Setelah berhasil,   mereka menggunakan email tersebut untuk mendapatkan akses ke akun Robinhood pelanggan

Meski demikian,   Robinhood tak merinci jumlah akun yang diretas. Namun diperkirakan hampir 2. 000 akun pelanggan dibobol dalam perkara itu.



Data berasal lantaran sumber yang memiliki pengetahuan mengenai tinjauan internal.

Kongsi menyatakan tengah bekerja dengan pelanggan yang terpengaruh untuk mengamankan akun mereka. Robinhood juga mendorong pelanggan untuk melindungi akun mereka memakai mekanisme seperti otentikasi dua faktor.

Mereka juga membicarakan ketika Robinhood diberi tahu sebab pelanggan tentang potensi penipuan, perusahaan dengan segera membatasi akun, menyelidiki akses tidak sah, mengeluarkan pengguna di semua perangkat dan menodong pelanggan untuk mengubah kata sandi mereka.

Robinhood ialah aplikasi populer di kalangan budak muda AS. Mereka menyediakan pertolongan perdagangan dan investasi dan mempunyai total lebih dari 13 juta akun pelanggan.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya di AS, pembobolan akun juga terjadi di Indonesia. Pembobolan disampaikan oleh Deputi Gubernur Superior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

Dia menyebut bahwa kasus kebobolan saldo terbilang gembung dialami satu diantara penyelenggara dompet digital atau uang elektronik di Nusantara.

Namun, ia tidak menyebut siapa penyelenggara jasa sistematis pembayaran (PJSP) yang dimaksud. Yang jelas, Destry bilang, kasus tersebut telah ditangani oleh BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kemarin memang ada peristiwa cukup besar sekali kebocoran di salah satu PJSP kita & itu sudah menjadi perhatian, telah masuk ke OJK ke BI. Ini juga sama ada dengan membobol pakai mesin, ” ujarnya dalam kuliah tamu bertajuk ‘Pasar dan Lembaga Keuangan’ yang digelar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia, Jumat (16/10).

Destry menyampaikan bahwa pentingnya melihat track record e-wallet dengan akan digunakan jika ingin menyimpan uang cukup besar. Pasalnya, urusan kehilangan uang di dompet digital bukan hal yang baru berlaku di Indonesia.

“Makanya, sebelum menggunakan harus cek zaman siapa penyelenggara e-wallet itu, ” sah dia.

(wel/agt)