Jakarta, CNN Indonesia —

PT Pertamina (Persero) Tbk mempersiapkan dana investasi sebesar US$8 miliar atau Rp115,84 triliun (mengacu kurs Rp14.480 per dolar AS) untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan nilai itu setara dengan 9 persen dari total investasi yang dipersiapkan Pertamina periode 2020 hingga 2024 yang besarannya mencapai US$92 miliar.

Angka itu juga melebihi rata-rata investasi EBT yang dialokasikan perusahaan minyak global yakni 4,3 persen dari total belanja modalnya (capital expenditure).


“Kami mengalokasikan sekitar 9 persen untuk EBT. Kalau kami benchmark dengan global player lainnya rata-rata mereka investasi di EBT dengan growth kira-kira 4 persen. Jadi sebetulnya ini sudah lebih tinggi karena kami harus catch up dengan target yang ambisius dari pemerintah,” ujarnya dalam diskusi Mengurai Hambatan Investasi Energi Terbarukan, Rabu (14/7).

Sementara, mayoritas dana investasi digunakan untuk sektor hulu (upstream) senilai US$64 miliar. Pasalnya, pemerintah ingin menciptakan kemandirian energi sedangkan mayoritas BBM Indonesia masih impor.

Dengan demikian, perseroan membutuhkan banyak pengembangan untuk sektor hulunya.

[Gambas:Video CNN]

“Kami membutuhkan investasi yang cukup besar antara 50 persen sampai 60 persen investasi Pertamina ini akan kami alokasikan untuk upstream,” tuturnya.

Sementara untuk sektor hilir (downstream), perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$20 miliar hingga 2024 mendatang. Rinciannya, senilai US$18 miliar untuk proyek pemurnian (refinery) dan petrochemical, sedangkan US$28 juta untuk komersial dan distribusi produk.

Strategi Hadapi Perkembangan EBT

Dalam kesempatan itu, Nicke mengungkapkan strategi perseroan sebagai perusahaan minyak dan gas menghadapi perkembangan EBT. Agar tetap bertahan, maka Pertanian akan melakukan integrasi kilang dengan petrochemical yang potensial ke depannya.

“Ketika demand fuel dan fossil fuel turun tetapi lifestyle dengan tingkat kesejahteraan meningkat, maka kebutuhan akan petrochemical ini akan terus berkembang, sekarang kebutuhan petrochemical luar biasa karena bisa digunakan untuk semua jenis barang,” katanya.

Selanjutnya, Pertamina akan mengembangkan proyek gasifikasi dan New Renewable Energy (NRE). Ia memastikan Pertamina masih tetap menjadi perusahaan energi namun dengan pengembangan kepada sektor hilirisasi untuk tetap bertahan di tengah perkembangan EBT.

“Kilang sekarang akan dikembangkan ke petrochemical dan prospeknya luar biasa, kedua adalah gasifikasi, akan kami dorong dan ketiak di NRE. Tiga hal ini akan kami kembangkan,” katanya.

(ulf/agt)