PETRI Dorong Peningkatan Edukasi Pengendalian AMR

Jakarta, CNN Indonesia —

Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia (PETRI), Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), bersama Pfizer Indonesia kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan pengertian tentang Antimicrobial Resistance (AMR) dan pengendaliannya.

AMR disebut merupakan krisis kesehatan global yang terabaikan, serta membutuhkan menghiraukan dan tindakan segera. Jika AMR masih ditangani dengan kebijakan era ini, Ketua KPRA Harry Parathon mengatakan, pada 2030, diperkirakan penerapan antibiotik akan meningkat 30 tip dengan potensi sampai 200 persen.

Padahal, saat ini setidaknya 700 ribu kematian disebabkan oleh penyakit yang resisten kepada obat di seluruh dunia setiap tahun. Pada 2050, WHO memprediksi 10 juta orang kehilangan menewaskan karena AMR.


“AMR merupakan permasalahan kesehatan global. Diperlukan kerja sama antar negara & antar sektor dalam menangani AMR. Secara global, gerakan pengendalian AMR sudah meningkat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya partisipasi negara-negara lain dalam pelaksanaan program Global Antimicrobial Resistance Surveillance System (GLASS), ”

“Hampir semua negara anggota WHO sudah melaporkan buatan aktivitas surveilans, termasuk upaya-upaya pengendalian AMR di negara masing-masing. Tetapi, prevalensi AMR – Multi Drug Resistant Organism (MDRO) masih agung. MDRO yang resisten terhadap high-end antibiotik juga meningkat, ” sekapur Harry dalam rilis tertulis.

Mengusung tema ‘Bersama Menghantam Antimicrobial Resistance Melalui Antibiotic Stewardship Program (ASP)’ dan sub inti ‘Tantangan Selama Pandemi Covid-19’, PETRI, KPRA, dan Pfizer Indonesia mengabulkan meningkatkan pengetahuan masyarakat dan gaya kesehatan (nakes) tentang Antibiotic Stewardship Program. Hal ini juga berbarengan dengan WHO yang mengajak klub, nakes dan pemerintah untuk jolok bagian mengurangi angka beban AMR dan menghentikan penyebaran infeksi kelanjutan AMR.

Terlebih, penyalahgunaan antibiotik selama pandemi dapat menimbulkan peningkatan risiko angka penyebaran AMR, karena Covid-19 disebabkan oleh
virus, bukan bakteri. Dengan sebutan lain, Covid-19 tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik.

Harry mengungkapkan, penanganan AMR harus dilakukan secara kolektif sebab semua pihak. Selain itu, menetapkan kolaborasi dalam implementasi Antibiotic Stewardship Program (ASP) di Indonesia. Dengan regional di kawasan Asia Pasifik, katanya, sudah dibentuk program kerjasama dalam menangani AMR, tetapi program One Health masih belum diterapkan.

Lebih lanjut, Harry menjelaskan tentang kondisi AMR serta pemakaian antibiotik di Indonesia. Di 2019, prevalensi AMR dengan parameter E. Coli dan K. Radang paru-paru (ESBL+) dilaporkan masih tinggi, yakni 60, 4 persen.

“Selama masa pandemi Covid-19 tersebut, pasien yang terpapar dan menikmati ko-infeksi bakteri sebesar 3-12 upah (rata-rata 7 persen), sehingga istimewa bagi para tenaga kesehatan buat benar-benar memastikan apakah pasien  Covid-19 mengalami ko-infeksi bakteri. Selain tersebut, fasilitas laboratorium, pemeriksaan imaging serta pengetahuan dokter harus ditingkatkan, berperan mendukung kebutuhan diagnosis, karena bila tidak ditingkatkan, pemakaian antibiotik dapat meningkat tajam, ” paparnya.

Kementerian Kesehatan dan Departemen Pertanian disebut sebagai dua lembaga yang memiliki peran terbesar di dalam implementasi ASP. Adapun 5 pokok strategis yang telah disepakati secara global adalah meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat terhadap AMR, meningkatkan pengetahuan melalui surveilans dan penelitian, pencegahan dan pengendalian penyebaran infeksi, mengoptimalkan penggunaan antimikroba pada manusia dan hewan (ASP), dan investasi jangka panjang seperti mendukung perubahan terapi baru (vaksin dan antibiotik), penemuan rapid diagnostik, serta bentuk tatalaksana infeksi.

Dalam pengimplementasiannya, Harry membuktikan bahwa ASP difokuskan pada penyetaraan tatalaksana dan persepsi seluruh gaya kesehatan, serta masyarakat di Nusantara.

“Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) sudah dicanangkan semenjak tahun 2015 dan buku petunjuk mengenai konsep ASP yang hendak dilaksanakan telah dipersiapkan oleh Kemenkes. Selain itu, program pembenahan tumpuan diagnostik infeksi bakteri di vila sakit (RS), serta peningkatan kegiatan sama internal para pihak RS yang berkepentingan juga sudah terlaksana dalam beberapa tahun terakhir, ” kata Harry.

Dia menambahkan, “Pada pelaksanaannya, implementasi ASP lebih condong ke arah prospective approach, di mana tim ASP di RS akan mendampingi tepat para dokter saat meresepkan antibiotik, sehingga pasien tidak menerima antibiotik yang salah (jenis, dosis, selang, rute dan durasi). ”

(rea)