Jakarta, CNN Indonesia —

Uni Eropa   menuntut perusahaan produsen vaksin AstraZeneca   karena masalah terlambat menyuplai vaksin corona yang membuat upaya vaksinasi di kawasan tertunda.

“Komisi telah memulai pada Jumat lalu langkah hukum kepada perusahaan AstraZeneca atas dasar pelanggaran perjanjian pembelian lanjutan, ” kata juru bicara Uni Eropa Stefan De Keersmaecker, contohnya diberitakan AFP , Senin (26/4).

De Keersmaecker mengatakan beberapa butir perjanjian  tak bisa dipenuhi dan AstraZeneca disebut belum berada dalam posisi sanggup menghasilkan solusi agar pengiriman vaksin bisa tepat waktu. Tuntutan ini dikatakan Sobre Keersmaecker berdasarkan  keinginan twenty-seven negara anggota Uni Eropa.


“Yang penting bagi kami dalam kasus ini adalah kami ingin memastikan bahwa ada pengiriman cepat dengan jumlah dosis yang memadai yg menjadi hak warga Eropa, dan yang telah dijanjikan berdasarkan kontrak, ” kata De Keersmaecker.

CNBC   menjelaskan gesekan antara Uni Eropa dan perusahaan produsen vaksin telah terjadi beberapa kali pada tahun terkait. AstraZeneca mengatakan tidak bisa mengirim jumlah vaksin sesuai kemauan Uni Eropa yang kemudian membuat vaksinasi Covid-19 di 27 negara terhambat.

“Menyusul penemuan ilmiah yang belum pernah terjadi sebelumnya, negosiasi yg sangat kompleks, dan tantangan manufaktur, perusahaan kami akan mengirimkan hampir 50 juta dosis ke negara-negara Eropa pada akhir April, sejalan dengan perkiraan kami, ” kata AstraZeneca dalam salahsatu pernyataan pada Senin (26/4).

AFP memaparkan AstraZeneca menolak tindakan hukum Uni Eropa oleh menyebutnya ‘tidak mendasar’ lalu bersikeras ‘kami menyambut kesempatan ini untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin’.

“AstraZeneca telah sepenuhnya mematuhi Perjanjian Pembelian Awal oleh Komisi Eropa dan jadi sangat membela diri di pengadilan, ” kata AstraZeneca.

(fea)

[Gambas:Video CNN]